PERKEMBANGAN BISNIS INFORMATIKA DI DALAM DAN LUAR NEGERI

PERKEMBANGAN BISNIS INFORMATIKA DI DALAM DAN LUAR NEGERI




Disusun oleh :

Damara Salsabila
50420328
2IA18


Tugas :

  • Mencari sejarah berdirinya suatu perusahaan.
  • Mengetahui informasi mengenai omset perusahaan dan informasi penting lainnya.
  • Menunjukkan bahasan produk unggulan dari suatu perusahaan.


Untuk memahami perkembangan bisnis informatika di dalam dan luar negeri, Saya akan memberikan contoh dua perusahan nasional dan dua perusahaan internasional. Perusahaan nasional yang akan Saya jadikan contoh adalah perusahaan MNC Group dan PT. Smartfren Telecom Tbk. Lalu, untuk perusahaan internasional yang akan Saya jadikan contoh adalah Realme dan Twitter Inc.


1. MNC Group



PT MNC Investama Tbk (berbisnis dengan nama MNC Corporation atau MNC Group) adalah sebuah konglomerat media massa dan jasa keuangan yang berkantor pusat di Jakarta. Perusahaan ini didirikan oleh Hary Tanoesoedibjo di Surabaya pada tanggal 2 November 1989 sebagai sebuah perusahaan sekuritas dengan nama "PT Bhakti Investama". Setahun kemudian, perusahaan ini memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta. 

Pada tahun 1997, perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Walaupun tidak lama, Titiek Soeharto dan George Soros pun pernah memegang minoritas saham perusahaan ini. Pada tahun 1999, perusahaan ini beralih ke bisnis investasi, sehingga bisnis sekuritas dan manajemen asetnya masing-masing dipisah ke PT Bhakti Capital Indonesia dan PT Bhakti Asset Management. 

Pada awal dekade 2000-an, perusahaan ini membeli saham dari sejumlah perusahaan, seperti Astra Internasional (3%), PT Bentoel Prima (75%), PT Indomarco Prismatama (51%), dan PT Salim Oleochemical (100%). Bahkan, Hary Tanoesoedibjo pun ditawari langsung oleh Bambang Trihatmodjo agar mau membeli 25% saham PT Bimantara Citra. Sebagian besar saham-saham tersebut kemudian dilepas.

Keberhasilan perusahaan ini dalam membeli saham dari banyak perusahaan pun sempat menimbulkan pertanyaan dan muncul rumor bahwa perusahaan ini didukung oleh keluarga Cendana atau Salim Group. Namun, Hary Tanoesoedibjo mengaku bahwa ia hanya memanfaatkan situasi ekonomi saat itu untuk menarik banyak investor sebesar-besarnya dan keberhasilannya lebih disebabkan oleh usahanya dalam menyehatkan perusahaan-perusahaan yang sahamnya ia beli. Kemudian, ia menjual saham dari perusahaan yang kondisinya sudah lebih baik kepada pemilik baru dengan harga mahal.

Pada tahun 2001, Bhakti Capital Indonesia resmi melantai di Bursa Efek Indonesia, dan pada tahun 2002, Bhakti Capital Indonesia ditunjuk sebagai induk untuk anak-anak usaha perusahaan ini yang bergerak di bidang jasa keuangan. Sementara itu, pada tahun 2002 juga, PT Global Mediacom Tbk mendirikan PT Media Nusantara Citra (MNC) sebagai induk untuk bisnis media berbasis kontennya. 

Pada tahun 2003, perusahaan ini resmi mengakuisisi Global Mediacom. Lalu, pada tahun 2004, Bhakti Capital Indonesia memisahkan bisnis sekuritasnya ke PT Bhakti Securities dan pada tahun 2007, perusahaan ini menjadi pemegang 20% saham PT MNC Sky Vision. Pada tahun yang sama, Media Nusantara Citra resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. 

Pada tahun 2010, perusahaan ini berekspansi ke bisnis energi dan sumber daya alam. Bhakti Capital Indonesia kemudian mengakuisisi PT UOB Life Sun Assurance dan mengubah namanya menjadi PT MNC Life Assurance. Global Mediacom juga resmi memegang 75,4% saham PT MNC Sky Vision. 

Pada tahun 2013, perusahaan ini berekspansi ke bisnis properti dengan membeli 26,23% saham PT MNC Land Tbk. Nama perusahaan ini juga diubah menjadi seperti sekarang. Pada tahun 2014, melalui MNC Kapital Indonesia, perusahaan ini mengakuisisi mayoritas saham PT Bank ICB Bumiputera Tbk dan PT Indo Finance Perkasa, yang kemudian namanya masing-masing diubah menjadi PT Bank MNC Internasional Tbk dan PT MNC Guna Usaha Indonesia. Perusahaan ini kemudian meluncurkan MNC Play, layanan pita lebar multimedia interaktif berteknologi Fiber To The Home (FTTH). 

Pada tahun 2015, perusahaan ini meluncurkan perubahan nama SindoTV menjadi iNews TV. Melalui MNC Land, perusahaan ini juga menyelesaikan pembangunan kompleks perkantoran dan studio TV di Kebon Jeruk, serta iNews Tower di Kebon Sirih dari tahun 2011.

Pada tahun 2016, perusahaan ini meluncurkan MeTube.co.id dan brandoutlet.co.id. Perusahaan ini juga meresmikan "MNC Studios" sebagai nama untuk kompleks perkantoran dan studio TV miliknya di Kebon Jeruk. Pada tahun 2017, nama GlobalTV, Indovision, iNews TV, dan brandoutlet.co.id masing-masing diubah menjadi GTV, MNC Vision, iNews, dan The F Thing.

Pada tahun 2019, PT MNC Vision Networks resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan ini kemudian meluncurkan RCTI+, sebuah layanan streaming untuk empat stasiun TV milik Media Nusantara Citra. MNC Vision Networks lalu mengakuisisi 60% saham K-Vision. Perusahaan ini juga meluncurkan aplikasi Smart Payment Indonesia (SPIN) untuk menghubungkan semua unit bisnis MNC Group di dalam satu aplikasi.

Perusahaan ini lalu meluncurkan eTVmall, sebuah konsep belanja dengan memindai kode batang yang ditampilkan saat program TV disiarkan. MNC Kapital Indonesia juga mengakuisisi Flash Mobile, sebuah perusahaan penyedia platform pembayaran tagihan, dan mengakuisisi mayoritas saham Auerbach Grayson & Company LLC.

Pada bulan Desember 2020, total kepemirsaan dari empat stasiun TV milik Media Nusantara Citra (RCTI, MNCTV, GTV, dan iNews) mencapai 56,5%, tertinggi sepanjang sejarah perusahaan ini. Pada tahun 2021, Media Nusantara Citra meluncurkan portal celebrities.id dan sportstars.id. MNC Vision Networks kemudian mengakuisisi sisa 20% saham K-Vision yang belum mereka pegang.

Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit, perusahaan mencatat kenaikan laba bersih hingga 86,51% menjadi Rp 978,63 miliar pada 2018, dari tahun sebelumnya Rp 524,70 miliar.

Laba bersih itu seiring dengan pendapatan perseroan yang naik 8,34% menjadi Rp 14,71 triliun dari sebelumnya Rp 13,58 triliun. Pendapatan ini mayoritas disumbangkan oleh bisnis media yang menyumbang Rp 10,32 triliun atau 70% terhadap pendapatan konsolidasi MNC Investama.

Jika lebih ditelusuri, bisnis iklan non-digital menyumbang pendapatan Rp 5,31 triliun dan disusul pendapatan dari bisnis TV berbayar dan broadband Rp 3,22 triliun.

Lini bisnis keuangan berkontribusi sebesar Rp 2,61 triliun. Bisnis content based media dan bisnis lain-lain bersaing ketat dalam menyumbangkan pendapatannya, masing-masing sebesar Rp 1,52 triliun dan Rp 1,77 triliun ke kantong perusahaan yang dulu bernama Bhakti Investama ini.

MNC Group membukukan kenaikan laba bersih sebesar 25% menjadi Rp 843,2 miliar kuartal II-2021, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 674,9 miliar. Dengan mengecualikan nilai penyesuaian forex, laba bersih MNC mencapai Rp 745,8 miliar, naik 60% dari Rp 466,2 miliar, dengan margin laba bersih 27%.

Semester I tahun ini, laba bersih MNC meningkat 26% menjadi Rp 1,264 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1 triliun.


2. PT. Smartfren Telecom Tbk (FREN)





PT Smartfren Telecom Tbk (sebelumnya bernama PT Mobile-8 Telecom Tbk) adalah operator penyedia jasa telekomunikasi berbasis teknologi 4G LTE Advanced yang merupakan pengembangan lanjutan dari 4G. Produk perusahaan ini adalah Smartfren (nama digayakan sebagai smartfren), dan dahulu bernama Fren.

PT Smartfren Telecom Tbk didirikan pada 2 Desember 2002 dan mulai beroperasi pada 8 Desember 2003. Pembentukan perusahaan ini tidak lepas dari upaya pemilik Bimantara Citra yang baru, Hary Tanoesoedibjo untuk membangun sebuah bisnis komunikasi sebagai penopang bisnis Bimantara Citra yang baru memfokuskan bisnis mereka ke bidang telekomunikasi dan media. Sebenarnya, Bimantara sudah memiliki sebuah perusahaan telekomunikasi bernama Komselindo (Komunikasi Selular Indonesia), yang dimiliki bersama dengan Telkom, tetapi sistemnya masih AMPS dan CDMAOne.

Selain itu, Hary Tanoesoedibjo juga menjadikan salah satu perusahaan yang dimiliki oleh induk Bimantara, Bhakti Investama yaitu Metrosel (Metro Selular Nusantara) dalam satu payung di bawah PT Smartfren Telecom Tbk.

Pada 8 Desember 2003, PT Smartfren Telecom Tbk meluncurkan produknya, yang dikenal dengan nama Fren yang berbasis CDMA2000 dengan modal awal berupa pengguna jaringan dari tiga perusahaan sebelumnya, yaitu Telesera, Metrosel, dan Komselindo yang diubah dari AMPS/CDMAOne ke CDMA2000. Sebelum 2008, Fren merupakan satu-satunya produk dari PT Smartfren Telecom Tbk, hingga ketika 3 Mei 2008 diluncurkan layanan FWA bermerek Hepi dan pada 4 Februari 2009 diluncurkan layanan internet murah bernama Mobi (Saat ini, layaknya Fren, Hepi dan Mobi sudah tidak digunakan lagi seiring penggunaan merek tunggal Smartfren).

Pada 3 Oktober 2006, PT Smartfren Telecom Tbk melakukan penawaran umum perdana dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya dengan melepas 19,91% sahamnya. Pada 11 Juni 2007, Mobile-8 melakukan penggabungan tiga anak usahanya diatas, yaitu Metrosel, Komselindo dan Telesera ke perusahaan induknya. Menurut Hary Tanoesoedibjo pada 2007 ia sangat puas dengan kinerja perusahaan ini, dan pada tahun tersebut tercatat mendapatkan 2 juta pelanggan. Di tahun yang sama, Fren mendapatkan izin untuk menyelenggarakan jaringan CDMA secara nasional dan mendapat izin Jaringan Tetap Lokal Nirkabel.

Pada tahun 2008, banyak perusahan lain yang mengambil sahamnya dari PT Smartfren Telecom Tbk dan akhirnya perusahaan ini terbelit hutang dan merugi. Pada tahun 2009, akuisisi perusahaan ini diminati oleh Sinarmas Group dan 19% saham Global Mediacom di PT Smartfren Telecom Tbk berpindah ke tangan PT Gerbangmas Tunggal Sejahtera.

Setelah akuisisi ini, Sinarmas dihadapkan pada masalah seperti hutang di PT Smartfren Telecom Tbk dan untuk menyelesaikannya pihak PT Smartfren Telecom Tbk sendiri mulai berbenah seperti menegosiasi dan mengatur ulang kerjasama dengan sejumlah vendor.

Akusisi tersebut membuat Sinarmas memiliki dua perusahaan telekomunikasi, yaitu PT Smartfren Telecom Tbk dan PT Smart Telecom (yang mengelola kartu Smart). Meskipun awalnya pada awal akuisisi disampaikan bahwa keduanya akan tetap beroperasi sendiri-sendiri. Namun, pada akhirnya keduanya kemudian memutuskan untuk mengkonsolidasikan perusahaan mereka dengan nama Smartfren untuk efisiensi biaya.

Memasuki Desember 2010, integrasi dalam jaringan juga semakin dipercepat oleh Smart dan PT Smartfren Telecom Tbk. Namun, untuk integrasi kedua perusahaan, awalnya sempat terhambat karena RUPSLB 8 Desember 2010 tidak mencapai kuorum.

 Akhirnya, proses integrasi operasional dan transaksi kedua perusahaan tuntas pada 23 Maret 2011 dan PT Mobile-8 Telecom (nama perusahaan lamanya) resmi mengganti namanya menjadi PT Smartfren Telecom Tbk pada 12 April 2011.

Pada 30 Oktober 2014, antara Smartfren dan Esia berhasil dijalin kerjasama antara kedua operator CDMA tersebut untuk membangun sebuah jaringan 4G. Kerjasama dilakukan dengan menggabungkan frekuensi CDMA mereka untuk dipakai dalam sistem 4G, dan Esia akan menyewa jaringan yang disatukan milik Smartfren tersebut untuk pelanggan Esia.

Kerjasama ini tetap dilanjutkan seiring Esia yang menutup dan menghentikan jaringannya, dimana pada 1 April 2015 jaringan data-nya diputus dan pada awal 2016 Esia resmi menghentikan seluruh layanan CDMA-nya di seluruh Indonesia kecuali Jakarta. Seluruh pelanggan Esia tersebut, akhirnya seperti "diminta" beralih ke Smartfren, jika tidak mereka tidak dapat memakai alat komunikasinya lagi.

Selain kerjasama dengan Esia yang kini sudah tidak beroperasi, Smartfren juga menjalin kerjasama dengan BOLT! yang menghentikan operasinya pada Desember 2018. Pelanggan BOLT! sendiri kemudian boleh menukar kartunya ke kartu Smartfren, atau bisa dikatakan "dianjurkan" untuk bermigrasi ke Smartfren.

Dibandingkan 4 perusahaan operator seluler lain, Smartfren merupakan operator dengan jumlah konsumen terkecil (hanya 13,3 juta, bandingkan dengan Telkomsel yang mencapai 171 juta). Selain itu, walaupun pengguna serta pendapatannya meningkat, Smartfren tidak pernah mencetak untung selama 12 tahun (sejak 2008).

Pada semester I 2019 ruginya mencapai Rp 1,07 triliun, kemudian pada semester I 2020 ruginya menjadi Rp 1,64 triliun. Akibat kinerjanya yang kurang baik, pernah selama bertahun-tahun saham Smartfren di Bursa Efek Indonesia selalu berada di harga terendah Rp 50. Namun, seorang analis mengatakan bahwa Smartfren tidak akan bangkrut (misalnya seperti Bakrie Telecom) karena dimiliki kerajaan bisnis Sinarmas yang dianggap sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. Bahkan, manajemen justru tetap ingin berekspansi misalnya meningkatkan BTS-nya dari 17.000 menjadi 20.000 buah.


3. Realme




Realme (ditulis bergaya sebagai realme) adalah produsen ponsel pintar yang berbasis di Shenzhen, Tiongkok. Realme didirikan pada 4 Mei 2018 oleh Sky Li (李炳忠), dengan beberapa anak muda lainnya yang berkecimpung di industri ponsel pintar dari berbagai negara yang termasuk juga Indonesia.

Realme pertama kali muncul di Tiongkok pada tahun 2010 sebagai Oppo Real. Realme awalnya merupakan sub-merek dari OPPO Electronics Corporation, salah satu anak perusahaan BBK Electronics dan mulai menjadi perusahaan independen pada tahun 2018.

Pada 30 Juli 2018, mantan Wakil Presiden Oppo dan Presiden Oppo divisi bisnis luar negeri Bingzhong Li (Sky Li) mengumumkan pengunduran dirinya dari Oppo dan niatnya untuk mendirikan realme sebagai merek yang independen pada laman Weibo. Ia fokus menciptakan telepon genggam yang menggabungkan antara performa yang cepat dan desain yang modis.

Pada Mei 2019, realme mengumumkan secara resmi pemasarannya di Tiongkok dan meluncurkan beberapa telepon genggam, seperti realme X, realme X Lite, dan realme X Master Edition. Pada Juni dan Juli 2019, realme memasuki pasar ponsel di daerah Tiongkok, India, Asia Tenggara, dan Eropa.

Dalam laporan terbaru yang disampaikan Counterpoint untuk data penjualan ponsel di kuartal II 2019, Realme dinilai sebagai merek smartphone yang berkembang dan menunjukkan performa yang menarik perhatian.

Di kuartal II 2019, tercatat total penjualan Realme secara global sebanyak 4,7 juta unit, peningkatan sebesar 848% per tahun dan berhasil menjadikan Realme sebagai merek smartphone paling berkembang di dunia.

Sayangnya, Realme mengalami kendala pada rantai pasokan yang menyebabkan menurunnya pengiriman smartphone pada kuartal I 2020.

Kemudian, Realme telah menjadi brand smartphone tercepat yang pernah mengirimkan 100 juta smartphone secara global pada Agustus 2021. Menyusul pencapaian pemecahan rekor ini, volume penjualan smartphone tahunan Realme telah mencapai rekor tertinggi hingga 60 juta unit, meningkat 50% dari tahun sebelumnya.


4. Twitter Inc.




Twitter pertama kali digunakan sebagai layanan internal bagi karyawan Odeo dan versi lengkapnya diperkenalkan kepada publik pada tanggal 15 Juli 2006. Pada bulan Oktober 2006, Biz Stone, Evan Williams, Dorsey, dan staf Odeo lainnya membentuk perusahaan baru, mengakuisisi Odeo dan semua asetnya – termasuk Odeo.com dan Twitter.com – dari investor dan pemegang saham. Selanjutnya, twitter secara resmi diperkenalkan di San Fransisco pada tanggal 19 April 2007 dengan misi untuk memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk dapat saling menciptakan dan berbagi informasi secara langsung dan tanpa hambatan.

Sejak diluncurkan, Twitter telah menjadi salah satu dari sepuluh situs yang paling sering dikunjungi di Internet, dan dijuluki dengan "pesan singkat dari Internet". Twitter mengalami pertumbuhan yang pesat dan dengan cepat meraih popularitas di seluruh dunia. Hingga bulan Januari 2013, terdapat lebih dari 500 juta pengguna terdaftar di Twitter, 200 juta di antaranya adalah pengguna aktif.

Pada awal 2013, pengguna Twitter mengirimkan lebih dari 500 juta kicauan per hari, dan Twitter menangani lebih dari 1,6 miliar permintaan pencarian per hari. Hal ini menyebabkan posisi Twitter naik ke peringkat kedua sebagai situs jejaring sosial yang paling sering dikunjungi di dunia, dari yang sebelumnya menempati peringkat dua puluh dua. Hingga Mei 2015, Twitter telah memiliki lebih dari 500 juta pengguna, 302 juta di antaranya adalah pengguna aktif.

Lalu baru-baru ini pada November 2021, Jack Dorsey sebagai CEO dari Twitter Inc. mengundurkan diri dan digantikan oleh Parag Agrawal.

Pendapatan dari iklan Twitter mencapai USD1,05 miliar atau naik 87% secara tahunan. Angka tersebut melampaui perkiraan Wall Street yang memprediksi sekitar USD909,9 juta. Perseroan memperkenalan 2.500 kategori topik baru selama kuartal ini guna membantu pengguna menemukan konten yang mereka minati.




Daftar referensi :

(MNC Group)
https://id.wikipedia.org/wiki/MNC_Corporation
https://www.cnbcindonesia.com/market/20190314194427-17-60762/holding-usaha-hary-tanoe-cetak-laba-tembus-rp-979-m
https://voi.id/ekonomi/51112/perusahaan-milik-konglomerat-hary-tanoesoedibjo-ini-raup-pendapatan-rp7-48-triliun-di-2020
https://investor.id/market-and-corporate/257857/laba-bersih-mnc-naik-25-kuartal-ii2021#:~:text=Kuartal%20II%2D2021%2C%20MNC%20mencetak,47%25%20menjadi%20Rp%202%2C655%20triliun

(PT Smartfren Telecom Tbk)
https://id.wikipedia.org/wiki/Smartfren_Telecom

(Realme)
https://id.wikipedia.org/wiki/Realme
https://inet.detik.com/consumer/d-4651410/realme-bangga-usia-setahun-sudah-masuk-10-besar-dunia
https://tekno.kompas.com/read/2020/05/18/17223937/5-besar-pasar-smartphone-indonesia-kuartal-i-2020-vivo-teratas?page=all
https://www.indotelko.com/read/1641430853/penjualan-realme-2021

(Twitter Inc)
https://id.wikipedia.org/wiki/Twitter#Pendirian_dan_reaksi_awal
https://ekbis.sindonews.com/read/492096/178/kebal-corona-pendapatan-iklan-twitter-meningkat-87-1627189670

Komentar